Kesehatan Badan Kesehatan

0
124 views

GRESIK – Semua orang pasti sepakat nilai penting kesehatan, yang pencapaiannya jelas membutuhkan nalar. Itulah kenapa, pada tataran makhluk hidup, tubuh manusia niscaya menjadi juara dalam strata prioritas kesehatan dibanding hewan. Ilmu kedokteran adalah bukti keniscayaan nalar dalam dunia kesehatan, sedemikian rupa, sehingga manusia secara anatomis meneguhkan kesempurnaan dan keagungan penciptaan.

Keagungan inilah yang, dalam kerangka berbangsa dan bernegara di abad kita ini, dicoba diteguhkan, dalam arti diorganisir lewat apa yang disebut sistem layanan sosial. Kemudian secara global diratifikasi lewat sistem SDGs (Sustainable Development of Goal’s) oleh 193 negara, termasuk Indonesia pada tahun 2015 di New York.

Maka kesehatan, bersama-sama 17 sasaran SDGs lainnya seperti pendidikan dan infrastruktur, telah menjadi barometer sehat atau sakitnya suatu negara. Dari sini orang menjadi absah menakar bobot kesehatan suatu badan kesehatan sejak kementerian hingga Puskesmas, karena negara yang sehat tidak lagi diukur dari capaian demokrasi dan ekonomi semata, melainkan bagaimana ia melayani rakyatnya di bidang kesehatan, pendidikan dan selainnya.

Indonesia sejauh ini serius meraih capaian layanan kesehatan, terutama sejak lahirnya Undang-undang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta seluruh terobosan programnya, misalnya BPJS. Akan tetapi jelas, seluruh kebijakan dan program itu menuntut kearifan yang melampaui nalar akademik kesehatan, menerobos tembok tebal birokrasi dan kebijakan. Kearifan, yang meneguhkan tubuh manusia sebagai icon keagungan penciptaan Tuhan.

Jika Puskesmas Kecamatan Tambak, misalnya (sekedar contoh merujuk pemberitaan beritagesik.com), disorot dan didemo warga, maka orang akan sulit untuk tidak menyimpulkan adanya penyalahgunaan atau penyelewengan garis ketentuan layanan kesehatan di sana. Karena, sepanjang layanan kesehatan yang baik menjadi kebutuhan dasar masyarakat, dan sepanjang dilakoni dengan baik pula oleh Puskesmas, maka mustahil terjadi demo warga. Adalah tidak mungkin warga merusak kebutuhan dasarnya sendiri. Amarah sosial menjadi niscaya hanya jika icon keagungan penciptaan itu dinodai.

Paradigma ini sesungguhnya berbasis optimisme sosial yang tengah digalakkan negara. Tegasnya, sistematika berbangsa dan bernegara semakin menemukan bentuknya yang rasional dan obyektif dari periode ke periode, dari waktu ke waktu. Paradigma inilah yang, secara pelan tapi pasti, menggiring warga untuk semakin rasional dan sistematis pula dalam berbangsa dan bernegara. Optimisme ini sedang dibangun dan berlangsung. Dan kita berada dalam pusarannya.

Dengan perspektif ini kita dapat memahami betapa teriakan mereka ketika berteriak, amarah sosial mereka ketika marah, sesungguhnya hanyalah harapan agar icon keagungan penciptaan senantiasa diagungkan. Hanyalah damba agar badan kesehatan senantiasa sehat. (alif)