Pentingnya Dental Record Dalam Identifikasi Korban

Fitri Rizki Amalia, Dokter gigi dan Mahasiswa Magister Ilmu Forensik Universitas Airlangga. (Foto: Dok. Fitri)

Oleh: Fitri Rizki Amalia (Dokter gigi, Mahasiswa Magister Ilmu Forensik Universitas Airlangga)

Kepala Pusat Data Informasi,dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, beberapa waktu lalu telah mengatakan dari Januari hingga 24 September 2018 tercatat ada 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Menurut Sutopo jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2018 mendatang.

Dari bencana yang terjadi tersebut, pasti banyak korban dan yang terdampak , baik yang meninggal dunia dan hilang, luka-luka, maupun mengungsi. Masih segar di ingatan kita akan Gempa bumi di Lombok pada akhir Juli dan bulan Agustus lalu, serta Gempa bumi dan Tsunami di Sulawesi Tengah pada September. Lalu baru-baru ini terdapat kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh dengan 189 orang penumpang.

Baik korban bencana alam maupun kecelakaan transportasi tersebut memerlukan identifikasi. Identifikasi sangat penting untuk perwujudan HAM, menentukan seseorang secara hukum, dan juga berkaitan dengan bidang adat dan agama, santunan, warisan, asuransi, pensiun, maupun status perkawinan pasangan dari korban supaya mempunyai kedudukan hukum yang jelas sekiranya ingin menikah kembali.

Selain itu, menyangkut dengan harkat dan martabat suatu negara terutama pada kasus-kasus korban massal yang korbannya juga menimpa warga negara asing.

Yang dimaksud identifikasi adalah meneliti atau menetapkan sesuatu yang sebelumnya tidak jelas atau tidak dikenal. Untuk identifikasi korban bencana bisa melalu beberapa metode misalnya dari visual, dokumentasi, barang-barang yang dipakai misalnya baju dan perhiasan, melalui sidik jari, gigi geligi, DNA, dan lain-lain.

Suatu kelebihan yang diperoleh dari data-data gigi dibanding sidik jari adalah setiap dokter gigi pada umumnya selalu membuat rekam medis gigi pasiennya, sehingga bisa dijadikan data antemortem (sebelum kematian) korban.

Dental Record secara umum adalah data atau catatan gigi, bagi kalangan medis disebut ‘Rekam Medik Gigi’ atau odontogram adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain tentang identitas pasien, hasil pemeriksaan pasien, diagnosis, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien disertai foto pasien, radiologi/rontgen gigi, gambar pencitraan (imaging), cetakan gigi dan rekaman elektrodiagnostik yang dapat dibuat secara manual atau digital.

Sidik jari bisa saja hilang, rusak atau terbakar misalnya, namun gigi relatif tahan terhadap pembusukan, panas dan asam pekat, sehingga data gigi postmortem (setelah kematian) masih bisa diperoleh sebagai perbandingan. Gigi merupakan bagian tubuh manusia yang paling kuat/keras. Mengapa demikian ? karena gigi komposisinya mengandung sedikit sekali bahan organik dan air, sebagian besar terdiri dari bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak.

Keuntungan gigi sebagai obyek identifikasi karena mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu. Gigi geligi sulit membusuk walaupun telah dimakamkan kecuali sudah mengalami nekrotik atau gangren, sedang organ-organ tubuh lain bahkan tulang telah hancur tetapi gigi masih utuh. Gigi baru akan lapuk pada suhu 200ºC dan menjadi abu pada suhu 450ºC.

Kelebihan lainnya adalah individualitas gigi, maksudnya kondisi gigi geligi antara satu orang dengan orang lain pasti tidak sama. Pada manusia ada 32 gigi dengan 5 permukaan klinis, berarti ada 160 permukaan gigi dengan berbagai variasi keadaan : letaknya, kondisinya baik atau tidak, adanya lubang, sisa akar, ditambal, pencabutan, adanya gigi palsu, dan lain-lain. Kemungkinan 2 orang identik data gigi dan mulutnya perbandingannya adalah 1 : 2 milyar penduduk.

Informasi yang bisa diperoleh dari gigi geligi korban yang ditemukan dapat mengetahui ciri khas seseorang tersebut antara lain : umur, jenis kelamin, ras, golongan darah, perkiraan bentuk wajah korban.

Identifikasi melalui gigi ini adalah proses menetapkan karakteristik unik gigi, restorasi gigi seorang individu dengan membandingkan data antemortem dan postmortem nya.

Kita tidak tahu takdir yang akan terjadi pada diri kita, namun berjaga-jaga itu penting. Jadi sebaiknya perbanyaklah catatan tentang gigi Anda, datang dan periksalah ke dokter gigi secara rutin, walaupun hanya untuk kontrol, apalagi jika Anda melakukan perawatan gigi, karena nantinya Anda juga akan punya rekaman yang komprehensif sesuai dengan kondisi gigi Anda. Jika berfoto pastikan ada foto Anda dengan pose tersenyum yang memperlihatkan gigi geligi Anda.()

No Response