AMP Extension page

Dasar dan Makna Hari Besar Bawean ke-417

No comment 267 views

Anis Hamim. (Foto: Istimewa)

PADA Oktober 2018 ini, warga Bawean untuk pertama kalinya akan memperingati ulang tahun (Ultah) Bawean yang ke-417. Perayaan ini kita namakan Hari Besar Bawean (HBB), atau bisa juga disebut Hari Raya Bawean (HBB). Tapi kalau menggunakan istilah hari raya bisa membingungkan. Karena Bawean sudah punya dua Hari Raya lain, yakni Idul Fitri dan Idul Adha atau Hari Raya Qurban.

Angka 417 ini dihitung dari sejak kedatangan Syekh Umar Mas’ud ke Bawean untuk menyebarkan Islam. Menurut catatan sejarah, beliau berlabuh di Bawean pada tahun 1601 Masehi. Kedatangan beliau ke Bawean kita anggap sebagai peristiwa sangat penting. Dengan memeluk Islam, orang Bawean menjadi lebih beradab dan hidup lebih tenang. Islam membuat hidup orang Bawean jadi seimbang, berikhtiar untuk hidup sejahtera di dunia, dan akhirat.

Sebenarnya, ada juga peristiwa lain yang tak kalah penting dan layak jadi titik hitungan Ultah Bawean. Misalnya pengakuan Bawean sebagai bagian dari daerah administrasi Kabupaten Surabaya oleh kolonial Belanda (VOC). Pengakuan itu tercatat terjadi pada tahun 1743. Tetapi peristiwa ini dianggap kurang ideal untuk diperingati, khawatir dipersepsikan sebagai ‘pro’ kebijakan kolonial, atau dianggap tidak happy menjadi bagian kabupaten Gresik dewasa ini.

Bahkan dengan spirit mensyukuri, Bawean diusulkan agar ultahnya dihitung dari bergabungnya Bawean ke kabupaten Gresik pada tahun 1974. Tetapi jika tahun 1974 dibuat hari jadi, usia Bawean nampak akan terlalu muda, karena kurun waktunya hanya berkisar puluhan tahun saja. Padahal eksistensi Bawean sudah berjalan panjang hingga ratusan tahun lamanya.

Ada juga yang mengusulkan ultah Bawean dihitung dari peristiwa singgahnya ekspedisi angkatan laut Majapahit. Saat itu, mereka berteduh di Bawean karena badai. Kejadiannya diperkirakan pada pada tahun 1350 M. Tetapi catatan peristiwa ini lebih banyak bersumberkan leganda. Karenanya kurang kuat jika dijadikan dasar sejarah.

Makna HBB

Sejatinya warga Bawean adalah campuran dari berbagai suku bangsa. Sehingga Bawean jadi tempat singgah para pelaut Nusantara. Yang sedang berpetualang atau mencari ikan di lautan utara Jawa. Banyak dari mereka yang awalnya hanya berniat singgah menjadi betah. Lalu, mereka memutuskan untuk bermukim saja, malah akhirnya menjadi warga Bawean juga. Di antara mereka ada yang berbaur ke pemukiman yang ada. Tapi banyak juga yang membuka kantong-kantong pemukiman baru. Hasilnya, saat ini Bawean punya tiga puluh desa dengan ratusan kampung atau dusun. Penduduknya berleluhurkan campuran dari berbagai suku di Nusantara, seperti Madura, Jawa, Bugis, Palembang, Banjar dan sebagainya.

Meski sudah menetap di Bawean, DNA sebagai insan perantau tetap terbawa dalam aliran darah setiap warga Bawean. Mereka terdorong untuk terus merantau. Baik untuk mencari pengalaman atau mengadu nasib untuk kehidupan yang lebih mapan. Selama puluhan tahun berikutnya, orang-orang Bawean cendrung bermigrasi ke wilayah-wilayah luar (luar negeri). Sebagian besar warga Bawean merantau ke daerah-daerah berdekatan, seperti Jawa, Madura, dan Kalimantan. Tetapi tak sedikir warga Bawean yang merambah hingga ke mancanegara. Utamanya Malaysia, Singapura, dan Australia. Hasilnya, kini warga keturunan Bawean menyebar di mana-mana.

Walau sudah di seantero dunia, (banyak) warga Bawean dan keturunannya masih membanggakan identitasnya. Mereka tetap merasa ‘Anak Oreng Phebiyen (AOP).’ Walau tidak lagi dalam satu wilayah, AOP disatukan dalam satu DNA ke-bawean-an. Ribuan AOP masih merasakan ikatan emosional ke Bawean. Termasuk kerinduan untuk sesekali pulang, setiap ada kesempatan. Maka HBB adalah upaya untuk menjaga dan memupuk rasa ke-Bawean-an orang Bawean dan anak keturunannya. HBB ingin melestarikan tradisi dan kesenian indah masa lalu sebagai warisan berkelanjutan. Dengan begitu, relasi AOP dengan Bawean, tanah leluhurnya tetap terjaga.

Dengan HBB ini, kita berupaya menghadirkan magnet yang kuat agar AOP di berbagai belahan dunia ‘pulang’ dan ikut berkontribusi membangun Bawean. Sambil juga mengundang mereka menapak tilasi tradisi, kesenian dan tempat-tempat ‘istimewa’ di Bawean. Jika kelak banyak yang berkunjung, HBB bisa juga diorientasikan untuk menarik pengunjung non AOP ke Bawean. Sebab, Bawean punya alam pegunungan dan bahari yang layak dikunjungi para pelancong nusantara dan mancanegara.

Maka, kunjungan para pelancong ini membuat Bawean semakin ramai. Keramaian ini adalah kunci terciptanya pasar berbagai barang dan jasa. Yang nantinya tentu akan mendorong kegiatan ekonomi dan terciptanya lapangan kerja. Dengan demikian, HBB tidak hanya menawarkan kesyahduan balik kampung, tetapi juga bisa jadi pemacu kegiatan kesenian, kreatifitas dan ekonomi warga Bawean. Tentu, perlu proses panjang agar HBB berdampak nyata untuk kesejahteraan. Maka, HBB ini penanda dimulainya langkah panjang mentransformasikan Bawean menjadi setidaknya seperti Banyuwangi. Sebelumnya, tanah dan laut Banyuwangi bukan apa-apa, kini menjadi mempesona dan berharga. Semangat HBB akan menginspirasi langkah nyata para satria dan srikandi Bawean selanjutnya untuk makin giat bekerja.

Waktunya HBB

HBB tahun ini dirayakan tanggal 1-7 Oktober 2018. Bertepatan dengan event nasional ‘Wonderful Sail to Indonesia’ di Bawean. Ada banyak drama dalam persiapannya. Dari masalah dana hingga kurang tanggapnya pemerintah daerah (Pemda).

Perayaannya di tahun pertama ini pasti jauh dari sempurna. Tapi, cukup berharga untuk kita syukuri dan kenang sebagai anugerah. Setiap unsur dan relawan telah bergerak bersama-sama. Membuktikan warga Bawean punya semangat dan kapasitas untuk berkiprah.

Di tahun 2019 dan tahun-tahun selanjutnya, HBB bisa dirayakan di bulan apa saja. Termasuk jika mau, disatukan dengan hari raya idul Fitri, Idul Adha atau Maulud Nabi SAW. Selamat Merayakan Hari Besar Bawean (HBB) ke- 417.

Penulis: Anis Hamim

No Response