Inovasi Pembelajaran E-Learning dalam Pemerataan Pendidikan di Indonesia

0
354 views
Assalilatul Maflahah, mahasiswi asal Gresik, kuliah di UMM. (Foto: Dokumentasi pribadi)

GRESIK – Di era sekarang ini teknologi menjadi salah satu peran penting dalam perkembangan kehidupan di dunia. Dalam konteks TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) teknologi informasi dan teknologi komunikasi merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan.Tetapi jika kedua definisi dari jenis teknologi ini dipisah maka keduanya memiliki arti definisi yang berbeda.

Teknologi infomasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi dan pengelolaan infomasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan menstransfer dari perangkat yang satu dengan yang lain.

Tidak banyak orang yang mengerti tentang apa itu e-learning, terutama orang-orang yang berada di pedesaan atau jauh dari dari daerah perkotaan. Pengetian dari e-learning sendiri yaitu suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi infomasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar atau merupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web, pembelajaran berbasis computer dan kelas virtual atau kelas digital.

E-learning juga bergantung pada penyelenggara suatu kegiatan, tujuan dan penggunannya. Melalui proses pembelajaran seperti ini dapat menggunakan berbagai cara komunikasi yang berbeda, baik secara bersama-sama (kelompok) maupun tidak bersama- sama (individual) dengan bentuk komunikasi digital seperti chatting, e-mail atau mailing list pada aplikasi facebook atau aplikasi yang lainnya. Kini semakin banyak teknologi informasi dan komunikasi yang telah bekembang dengan sangat cepat.

Dengan dukungan teknologi yang ada saat ini, banyak sekali contoh media elektronik dengan teknologi komunikasi yang berperan dalam kehidupan manusia. Seperti halnya internet maupun gadget seperti smartphone dan lain sebagainya.

Dengan kondisi letak geografis Indonesia yang memiliki kurang lebih 13.000 pulau dengan wilayah yang luas menjadi suatu masalah yang cukup serius dalam progam pemerataan pendidikan di Indonesia.

Faktor komunikasi dan transportasi yang sangat kurang mempengaruhi pemberian fasilitas dalam efektivitas pendistribusian guru, bahan ajar dan sarana lainnya terutama di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Hal seperti ini akan sangat menghambat upaya pembangunan dan peningkatan terhadap sumber daya manusia bangsa Indonesia.

Seiring dengan pesatnya laju perkembangan teknologi infomasi dan komunikasi, maka permasalahan tesebut akan dapat diatasi dengan memanfaatkan teknologi sebagai problem solver (penyelesaian masalah ). Salah satu contoh dari peran teknologi yang membntu di bidang pendidikan adalah e-learning.

Perubahan konsep pembelajaran dari konvensional menjadi e-learning sudah seharusnya berkaitan dengan strategi pembelajaran dalam pengembangan akademik. Tanpa adanya keterkaitan dan pengembangan itu maka inovasi tersebut akan gagal.

Apabila inovasi pembelajaran yang di kembangkan ini berhasil maka kemungkinan akan menjadikan pelajar dan mahasiswa semakin meningkatkan kemampuannya, membuat mahasiswa melakukan pembelajaran secara interaktif, membuat tugas semakin beragam dan cepat dalam penyelesaiannya, serta dapat mengembangkan strategi dalam hal penguatan dan evaluasi. Namun, perubahan konsep pembelajaran seperti ini bukanlah hal yang mudah untuk diimplementasikan.

Hal ini diakui oleh beberapa dosen yang mengalami kesulitan dalam menerapkan e-learning, tetapi mahasiswa juga mengalami kendala, khususnya dalam menggunakan komputer. Hal ini akan berakibat pada rendahnya kemajuan belajar yang dicapai karena pembelajaran dengan konsep tidak bertatap muka secara langsung ini tidaklah mudah bila dibandingkan dengan sistem pembelajaran dimana pelajar dan pendidik dapat bertatap muka secara langsung.

Banyak hal positif yang dapat kita ketahui dari kecanggihan teknologi e-learning . Seperti perubahan tata nilai dan sikap masyarakat dari irasional menjadi rasional, pelajar dan mahasiswa lebih mudah beraktifitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju dengan berkembang pengetahuan dan teknologi, member fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat, member kesempatan bagi pelajar dan mahasiswa secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar dan juga memberikan efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara serta efisiensi biaya bagi pelajar dan mahasiswa (transportasi dan akomodasi ).

E-learning juga memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan sistem pembelajaran konvensional. Seperti materi pelajaran yang lebih mudah diserap karena adanya fasilitas berupa gambar, teks, animasi atau video, jauh lebih efektif dalam biaya karena tidak perlu mengeluarkan banyak uang, materi jauh lebih ringkas karena langsung ke pokok bahasan, dan yang terakhir yaitu tersedia 24 jam dalam 7 hari.

Banyak kelebihan dan manfaat yang dimiliki e-learning, akan tetapi e-learning juga memiliki hal negatif yang terkadang tidak kita sadari bahwasanya setiap teknologi memiliki dampak negatif.

Dampak negatif dari e-learning seperti kurangnya interaksi antara pelajar dengan pengajar bahkan antara pelajar dengan pelajar, kecenderungan mengabaikan aspek sosial dan membuat tumbuhnya aspek individual, proses belajar mengajar cendeung ke arah pelatihan dari pada pendidikan dan berubahnya peran pengajar dari semula yang menguasai teknik pembelajaran konvensional kini dituntut untuk mengetahui teknik pembelajaran yang berinteraksi tanpa bertatap muka secara langsung pada tempat dan waktu yang sama.

Ada beberapa dimensi yang menyangkut penerapan konsep pembelajaran e-learning, antara lain dimensi organsasi, dimensi infrastruktur, dimensi sumber dana dan dimensi sumber daya. Keempat dimensi itulah yang harus dipersiapkan dalam mengembangkan konsep pembelajaran e-learning sehingga benar-benar dapat memfasilitasi proses belajar mengajar.

Sebenarnya pemanfaatan internet di Indonesia bisa ditingkatkan apabila ada fasilitas yang mendukung serta memadai, baik fasilitas infrastuktur maupun fasilitas yang bersifat kebijakan. Hal ini bukan saja di dukung oleh banyaknya sekolah dan universitas yang disajikan secara formal, namun juga semakin banyaknya warung-warung internet (internet kiosk) yang muncul di berbagai pelosok di Indonesia.

Pengguna internet bukan saja dari kalangan pelajar dan mahasiswa, namun juga dari kalangan masyarakat lainnya meskipun mereka belajar secara tidak formal. Progam pembelajaran ini bisa dinikmati oleh siapa saja dan dimana saja meski tidak mengikuti pendidikan yang formal.

Dapat kita ketahui dari penjelasan di atas bahwa dengan latar belakang kurangnya pemerataan pendidikan di Indonesia yang dibantu dengan adanya kecanggihan teknologi ini. Kini pemerintah telah berupaya untuk memanfatkan dan memaksimumkan dengan tersedianya teknologi informasi dengan membentuk kantor Menteri Negara Informasi dan Teknologi.

Di tiap departemen bahkan ada yang menangani teknologi informasi ini. Misalnya di tiap universitas ada pusat komputer atau adanya pusat teknologi komunikasi dan informasi untuk pendidikan. Juga agar dapat mencegah dampak negatif atau sebagai upaya untuk meminimalisisr hal-hal yang tidak diinginkan, maka masyarakat terutama kaum remaja perlu diberikan sebuah wawasan yang mendidik serta mengadakan sebuah progam sosialisasi mengenai kondisi masyarakat bagaimana seharusnya memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.

Peran guru dan orang tua juga sangat berperan penting dalam proses belajar mengajar sehingga pengontrolan waktu dalam menggunakan teknologi kepada pelajar dapat diatur dengan baik.Baik dari segi fisik maupun psikologi dari pelajar terhadap pembelajaran e-learning.

*) Assalilatul Maflahah, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)