Petrokimia Gresik-Husky Teken Perjanjian Jual Beli Gas

0
401 views

JAKARTA, BeritaGresik.com – Setelah melalui proses negosiasi yang panjang, akhirnya BUMN pupuk PT Petrokimia Gresik menandatangani perjanjian jual-beli gas dengan Husky-CNOOC Madura Limited untuk pabrik amoniak-urea ke-2 di Gresik, Jawa Timur yang  akan segera dibangun.

“Pabrik amoniak-urea II ini sangat penting bagi kami guna memenuhi kekurangan amoniak yang selama ini dipenuhi dari impor,” kata Dirut PT Petrokimia Gresik (Petrogres) Hidayat Nyakman, di Jakarta, Kamis.

Dengan ditandatanganinya perjanjian jual beli gas antara Petrogres dan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) di Jakarta, Kamis (30/5) tersebut, maka BUMN yang memproduksi beragam jenis pupuk bakal mendapat pasokan gas dari lapangan MDA-MBH (Madura) sebesar 85 MMSCFD (juta kaki kubik per hari) untuk pabrik ke-2 yang segera dibangun tahun ini.

Hidayat  menjelaskan saat ini kapasitas produksi amoniak yang ada hanya 445 ribu ton/tahun, padahal Petrogres membutuhkan 850 ribu ton amoniak/tahun untuk bahan baku pupuk urea dan NPK Phonska. “Untuk menutupi kekurangan amoniak tersebut, kami impor dari PT Pupuk Kalimantan Timur dan Iran,” kata Hidayat.

Karena itu pula, perjanjian jual beli dan pasokan gas dari HCML tersebut sangat penting untuk menjamin bahan baku untuk pabrik amoniak-urea II tersebut yang diperkirakan membutuhkan investasi 661 juta dolar AS.

“Dengan adanya pabrik ke-2 tersebut kelak, kami bisa menghemat 16 juta dolar AS/tahun untuk transportasi (shipment) saja,” kata Hidayat. Asumsi tersebut berdasarkan perhitungan biaya pengapalan amoniak yang mencapai 40 dolar AS/ton dan volume impor sebesar 400 ribu ton/tahun.

Rencananya pabrik amoniak-urea II tersebut akan mulai beroperasi sekitar Agustus – Oktober 2017 dengan kapasitas produksi amoniak mencapai 200 ton/hari atau 669 ribu ton/tahun dan pupuk urea sebesar 1.725 ton/hari atau setara dengan 570 ribu ton/tahun.

“Kami mengharapkan HCML bisa memenuhi target, agar bisa memasok gas bersamaan dengan rampungnya pembangunan pabrik amoniak-urea II kami,” ujar Hidayat.

General Manager HCML Huang Chunlin mengatakan pihaknya akan berupaya memenuhi target tersebut. Saat ini, kata dia, tender pengerjaan gas telah dilakukan, termasuk proses izin dari SKK Migas. “Memang hal-hal itu butuh waktu, tapi kami berusaha memenuhi jadwal (pasokan gas) tersebut,” katanya.

Berdasarkan kontrak perjanjian jual beli yang ditandatangani tersebut, HMCL akan memasok gas ke pabrik amoniak-urea II milik Petrogres sebesar 85 MMSCFD (juta kaki kubik per hari) dengan harga kontak sebesar 6,5 dolar AS/ MMBTU ( million metric british thermal unit) dan ada eskalasi kenaikan harga dengan sekitar 2,5 – tiga persen per tahun.

Untuk membangun pabrik kedua, Petrogres mendapat kredit antara lain dari BNI 46 sebesar satu triliun rupiah dan CIMB Niaga sebesar Rp1,5 triliun. Hidayat berharap akan mendapat tambahan kredit dari bank nasional lainnya sebesar Rp1-1,5 triliun lagi. “Pembiayaan sebagian besar 70 persen dari sejumlah bank, dan sisanya 30 persen dari internal,” ujarnya.

Ia mengatakan dengan pembangunan pabrik ke-2 tersebut, maka total kapasitas produksi urea Petrogres mencapai sekitar satu juta ton per tahun, sehingga akan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pupuk urea di Jawa Timur yang mencapai 1,2 juta ton/tahun, di samping pupuk majemuk dan pupuk lainnya seperti SP-36, ZA, dan KCL.

Petrogres merupakan salah satu anak perusahaan PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang merupakan induk BUMN pupuk di Indonesia. [ANT/AS]