Kerajinan Tikar Pandan Bawean Terkendala Pasar

0
767 views
Produksi kerajinan tikar pandan Bawean. (Foto: BG/Wan)
Produksi kerajinan tikar pandan Bawean. (Foto: BG/Abr)

BeritaGresik.com – Upaya pengembangan produk kerajinan tikar pandan khas Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, hingga kini masih terkendala pangsa pasar yang masih sedikit.

Salah seorang perajin di dusun Batu Lintang, Desa Telukjatidawang, Kecamatan Tambak, Silfah (48) mengatakan, bahwa kreativitas perajin tikar pandan selama ini masih terkendala dengan pemasarannya.

Menurut dia, pangsa pasar untuk produk tikar pandan di Bawean sangat terbatas. Kalaupun ada, pembeli lokal umumnya menawar dengan harga yang relatif rendah. Hal itu dinilai tidak sepadan dengan tingkat kesulitan membuat tikar.

“Hingga saat ini pembuatan tikar masih bergantung pada pesanan dari luar. Biasanya pesanan itu datang dari orang Bawean yang tinggal di Singapura atau Malaysia,” terang Silfah kepada BeritaGresik.com, Rabu (30/3/2016).

Proses pembuatan tikar pandan Bawean memang tak semudah yang dibayangkan. Tak heran jika harga tikar pandan ini relatif mahal, dan itu setimpal dengan tingkat kesulitan proses pembuatannya.

Produksi tikar umumnya dilakukan secara terun temurun, sehingga sampai saat ini masih tetap lestari. Mereka masih mempertahankan kerajinan tradisional ini.

Silfah menjelaskan, butuh waktu sekitar dua minggu untuk satu anyaman tikar pandan, mulai dari pengambilan daun pandan, membuang duri tengah dan duri pinggir. Dilanjutkan dengan proses mengiris, lalu merebus dan merendam.

Tak hanya itu, irisan daun pandan masih harus diwarnai dan dijemur, baru dilanjutkan dengan proses terakhir yakni menganyam tikam dengan berbagai motif.

Harga tikar pandan sendiri berfariasi, tergantung ukuran dan motifnya. Rata-rata satu tikar ukuran kecil dibandrol Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Untuk ukuran besar biasanya dibandrol Rp300 ribu hingga Rp350 ribu. (abr)