Petani Gresik Kirim 30 Ton Beras Ke Jabodetabek

0
22 views
Proses pengiriman beras petani Gresik ke Jabodetabek. (Foto: BG/As)

BeritaGresik.com – Melalui Toko Tani Indonesia (TTI) Center di Jakarta, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari 4 desa di Gresik berhasil menjual beras medium ke pasaran wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Pengiriman perdana sebanyak 20 ton beras ini dilakukan dari TTI Desa Kedungrukem Kecamatan Benjeng dan TTI Desa Wahas Kecamatan Balongpanggang, Minggu (27/8/2017).

Kepala Dinas Pertanian Agus Joko Waluyo kepada Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Gresik Suyono mengungkapkan, jumlah pengiriman sekarang ini beru sekitar 50% dari jumlah alokasi yang ditargetkan.

“Mestinya tahun ini kami ditarget 40 ton, namun setelah ada kesepakatan dari Pihak Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur, maka pengiriman TTI Kabupaten Gresik ke Jabodetabek hanya 30 ton. Sisanya untuk kebutuhan pasar lokal Gresik dan Jawa Timur,” jelasnya.

Program Pengembangan Usaha Pangan masyarakat atau yang dikenal dengan TTI 2017 di Kabupaten Gresik dilaksanakan di empat desa dengan dua macam komoditi. Untuk komoditi beras dilaksanakan di Desa Kedungrukem Benjeng dan Wahas Balongpanggang. Sedangkan komoditi Cabe dilaksanakan di desa Pengalangan Menganti dan Desa Tenaru Driyorejo.

“Komoditi cabe kami ditarget 35 ton untuk di kirim ke Jabodetabek. Namun karena ada kekosongan dipasar lokal dan regional, maka atas kesepakatan Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur produksi cabe untuk memenuhi kebutuhan local. Sedangkan 10 ton produk cabe yang lain kami kirim ke TTI Center di Jakarta,” tutur Agus.

Program Pengembangan Usaha Pangan masyarakat atau TTI ini dibiayai oleh dana APBN. Alokasi dana program TTI tahun 2017 di Gresik sebesar Rp 640 juta yang terbagi pada setiap Gapoktan masing-masing sebesar Rp 160 juta. Rinciannya, untuk permodalan sebesar Rp 100 juta dan untuk biaya operasional sebesar Rp 60 juta.

Dalam program ini, harga produksi dibeli dengan harga lebih tinggi oleh pihak TTI. Namun, pihak pembeli menentukan kualifikasi dan standar khusus yang bisa diterima TTI Center. Untuk beras medium misalnya, waktu jemur harus memenuhi tingkat kekeringan tertentu serta prosentase pecahan (broken) sesuai yang ditetapkan.

“Untuk Cabe malah lebih rumit. Dari pihak TTI menetapkan, saat pengiriman pengemasannya harus baik. Rentang waktu cabe diterima maksimal dalam waktu 12 jam setelah dipanen. Makanya kami harus hati-hati dan perlu meyakinkan kepada Petani dan Gapoktan” ujar Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian Gresik Iwan Lukito.

Sesuai misi pemerintah, program ini bertujuan untuk menyerap produksi pertanian nasional dengan harga yang layak sehingga menguntungkan petani. Selain itu, juga mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan serta memberikan kemudahan akses konsumen terhadap bahan pokok, terutama pangan. (sdm/as)