Industri dan Budaya Bisa Jalan Beriringan

0
432 views

SURABAYA, BeritaGresik.com – Proses industrialisasi tidak serta-merta ikut merusak budaya masyarakat, termasuk budaya agraris yang menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat Indonesia.

Hal itu diyakini bisa menjembatani antara industrialisasi dan penjagaan keberlanjutan lingkungan serta budaya, antara pelaku industri dan masyarakat harus meningkatkan komunikasi dan sinergi. Hal tersebut dikatakan pengamat politik yang juga peneliti LIPI, Hermawan Sulistio,  UIN Sunan Ampel, Surabaya, Sabtu (27/6/).

Pria yang akran disapa Kiki ini kemudian mencontohkan, polemik dalam pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia Tbk di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Menurutnya, adanya pro dan kontra seperti pendirian pabrik Semen Indonesia misalnya, ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap masalah Semen Indonesia dan masyarakat.

Pertama, melakukan pencerahan, yaitu menjelaskan tentang pembangunan pabrik ini terhadap masyarakat sekitar. Hal ini diharapkan supaya diperoleh informasi yang jelas berbagai pengaruh dengan adanya pabrik tersebut.

Kedua, masing-masing pihak, baik perusahaan semen maupun masyarakat, diharapkan memberikan data, bahkan janji yang akan dilakukan.

“Dan harus ada pihak yang mengawal hal itu. Misal tidak adanya perusakan lingkungan, penyerapan SDM sekitar. Itu yang harus benar-benar dikawal dan diawasi,” ujarnya.

Ketiga, ada pihak yang menjelaskan tentang benchmark yang telah terjadi sebelumnya serta menunjukkan pengaruhnya. Misal saja, pada Semen Indonesia, harusnya mereka memberikan data atau suatu penjelasan menyeluruh sebelum, sedang dan sesudah adanya pabrik semen.

”Tentu saja dengan mencontohkan apa yang terjadi di pabrik semen yang telah ada sebelumnya,” lanjutnya.

Kiki juga mengatakan, dampak pembangunan pabrik memang beragam. Misalnya, setahu Hermawan, harga tanah di sekitar pabrik, bahkan bekas galian batu kapur untuk semen, sudah melejit dan menjadi kawasan premium untuk perumahan.

”Misalnya di luar negeri seperti daerah Kyoto, Jepang, ada pasar tradisional yang berusia ratusan tahun yang masih berdiri di antara pasar dan bangunan modern lainnya. Bahkan masyarakat di situ, beri hak untuk memiliki atau masuk sebagai pegawainya. Ini hubungan harmonis bisnis dan masyarakat,” jelas Kiki.

Menurutnya, permasalahan yang terjadi dalam perbedaan pendapat perusahaan semen dan masyarakat masih dalam dataran hipotesis alias kesimpulan asumsi sementara. Pasalnya, belum bisa diukur efek mana yang terjadi, apakah efek yang baik atau buruk. ”Karena itu perlu komunikasi,” ujarnya.