Budidaya Udang Vannamei Mulai Diminati Petani Gresik

1
4,032 views
Sejumlah pekerja sedang menabur bibit udang vananmei di areal tambak Manyar,Gresik, Jumat (22/1/2016). (Foto: BG/Wan)
Sejumlah pekerja sedang menabur bibit udang Vannamei di areal tambak Manyar, Gresik, Jumat (22/1/2016). (Foto: BG/Wan)

BeritaGresik.com – Budidaya udang Vannamei kini mulai banyak diminati petani udang di Gresik. Selain pasarnya cukup luas, udang jenis ini makin populer dikonsumsi oleh masyarakat.

Udang yang memiliki nama Latin ‘Litopenaeus vannamei’ ini cocok dibudidaya di Indonesia, karena habitatnya cocok dengan kondisi iklim di Tanah Air, yakni butuh suhu air di atas 20 derajat celcius. Udang jenis ini juga memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat.

Selama ini banyak pihak beranggapan membudidayakan udang Vannamei hanya bisa dilakukan secara intensif. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar. Pembudidaya bisa membiakkannya dengan pola tradisional plus.

Itu sebabnya, pemerintah melalui Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) mendorong kegiatan revitalisasi tambak dengan mengembangkan kawasan tambak udang percontohan (demfarm) untuk meningkatkan produksi udang nasional.

Udang Vannamei relatif lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan udang windu. Sekali panen Pipit, salah satu petani udang di Gresik, bisa meraup omzet Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. “Sekali panen bisa mencapai sekitar 2 kuintal,” ujar Pipit ditemui di areal tambak udang di Manyar Gresik, Jumat (22/1/2016).

Harga jual udang Vannamei mencapai Rp 60.000 per kilogram (kg), berisi sekitar 60 ekor sampai 70 ekor udang. Selama ini hasil panen para pembudidaya udang hasil kemitraan dengan KKP ini sebagian untuk memenuhi kebutuhan unit pengolahan yang ada di Lampung dan sebagian untuk konsumsi pasar di Jakarta.

“Saya berharap pemerintah bisa membukakan wadah khusus agar bisa masuk jalur ekspor,” kata dia.

Petani udang lainnya di Gresik adalah Hamidi. Dia sudah membudidayakan udang vannamei sejak 2005. Hamidi menjual bibit udang kepada tengkulak setiap enam hari hingga 10 hari sekali. Bila cuaca bagus, dia bisa memanen bibit udang sampai 500 bibit. Tetapi bila cuaca sedang buruk hanya 100 bibit.

Hamidi membanderol harga jual udang miliknya Rp 7 per bibit udang. Dari hasil panennya, sebulan dia bisa mengantongi omzet hingga puluhan juta rupiah. Sedangkan untuk margin keuntungannya, dia mengaku bisa mencapai 50% dari total omzet.

Untuk menggenjot produksi udang Vannamei, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkenalkan program demfarm atau demonstration farm. Program ini sudah mulai diterapkan para petambak udang vannamei di daerah Katapang, Lampung Selatan.

Untuk membudidayakan udang Vannamei, idealnya harus memiliki lahan seluas satu hektare. Satu petak kolam minimal luasnya sekitar 2.500 meter persegi (m²). Jadi satu hektare lahan bisa dibuat menjadi empat kolam.

Dalam tambak demfarm ini, setiap kolam dilapisi terpal. Penutupan terpal dilakukan hingga ke luar tepian kolam. Fungsi terpal ini untuk melindungi kolam dari longsoran tanah. Takutnya, kalau hujan, tanah longsor dan masuk kolam.

Bila masuk ke dalam air, longsoran itu bisa mempengaruhi derajat keasaman atau ph air. Selain terpal, di dalam kolam dipasangi kincir air. Tujuannya untuk menjaga suplai oksigen dan mengontrol kotoran udang.

Setelah siap, kolam harus diisi air payau. Selanjutnya menyiapkan bibit untuk ditebar di kolam. Penyebaran benih maksimal 100 ekor per m². Untuk pakannya bisa diberikan pelet. Kolam seluas 2.500 m² bisa menghabiskan pakan sebanyak 3 ton hingga panen atau usia 100 hari sejak penebaran benih. Harga pakan udang ini sekitar Rp 15.000 per kilogram (kg).

Kondisi air harus diperhatikan, “Kalau bisa jangan lumutan karena kualitas air menjadi kunci keberhasilan panen,” ujarnya. Meskipun lebih tahan terhadap penyakit, udang vannamei membutuhkan biaya operasional lebih mahal dua hingga tiga kali lipat dibandingkan udang windu. “Obat-obatan harus khusus, pakannya juga harus khusus,” ujarnya.

Hamidi di Gresik, menambahkan, supaya udang tumbuh maksimal, sebaiknya setiap 1 meter cukup ditenar dua ekor hingga tiga ekor bibit saja. Umur bibit udang yang paling ideal untuk ditebar berusia enam hingga 10 hari.

Sebelum menebar bibit ada baiknya air di kolam sudah berusia tujuh hari. Tujuannya agar plankton tumbuh banyak dan tidak perlu memberi pakan tambahan. Pakannya sendiri harus diberikan setiap dua kali sehari. Tapi bila plankton di kolam masih banyak tidak perlu diberikan pakan. (wan)