Peneliti: Pulau Bawean Model dari Benua Atlantis

0
1,959 views

JAKARTA, BeritaGresik.com – Penelitian lima tahun yang dilakukan Dhani Irwanto menguak temuan baru. Peneliti yang jug pakar hidrologi tersebut berani mengklaim bahwa Benua Atlantis yang hidup 11 ribu tahun lalu, terletak di Indonesia, tepatnya di Kalimantan bagian selatan dan Laut jawa.

Berdasarkan temuan data di lapangan, menggunakan pendekatan gambar geografi, iklim, tata letak dataran dan kota, hidrolika sungai, dan saluran, hasil bumi, struktur sosial, adat istiadat, mitologi, dan kehancurannya terinci, termasuk dimensi dan orientasinya, kata Dhani, Atlantis memang berada di Indonesia.

Hal itu mengacu pada cerita filsuf Yunani, Plato dalam Timaeus and Critias. Memang ia bukan yang pertama menebak Benua Atlantis berada di Indonesia. Sebelumnya, peneliti asal Brasil, Arysio Nunes dos Santos sudah menulis buku bahwa Atlantis berada di Indonesia.

Hanya saja, kata Dhani, profesor yang sudah meninggal itu belum memprediksi secara tepat lokasi Atlantis. “Di Kalimantan bagian selatan, tepatnya pada kemiringan satu derajat turun dari Pulau Kalimantan hingga Laut Jawa. Pulau Bawean adalah model dari Atlantis, yang memilki lingkungan, formasi geologi dan kegiatan tektokni yang sama,” katanya Dhani, di Jakarta¬†akhir bulan lalu.

Untuk membuktikan temuannya, dia merangkum argumen ilmiah tersebut dalam buku berjudul Atlantis: The Lost City is in Java Sea. Saat ini, buku tersebut baru diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris. “Dua bulan lagi edisi bahasa Indonesia akan diterbitkan. Buku ini sudah bisa dipesan di situs¬†Amazon,” ujarnya.

Dhani mengutip kisah Plato yang menyebut Atlantis adalah dataran rata dan halus, serta turun menuju laut. Selain itu, Plato menyebut Benua Atlantis berupa dataran yang dikeliling pengunungan yang indah besar dan kecil, yang identik dengan Pegunungan Muller Schwaner dan Meratus.

Data lainnya, pulau legendaris tersebut disebutkan menghadap ke selatan dan terlindung di sebelah utara. Atlantis berbentuk persegi dan lonjong sepanjang 555 kilometer dan lebarnya 370 kilometer. Dari gambaran Plato, lanjut Dhani, terungkap tanah subur, rakyat makmur, banyak sungai, dan banyak padang rumput.

Dhani menjelaskan, saluran air yang diceritakan oleh Plato merupakan sungai-sungai yang berasal dari Pegunungan Muller Schaner dan Meratus. Ketika itu, Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan masih bersatu, dan belum terpisahkan akibat naiknya air laut.

Dia berpendapat, Atlantis merupakan pulau yang terletak di atas Pulau Bawean, yang kemudian tenggelam oleh gempa dan tsunami. Hanya saja, Plato saat itu menyebut banjir lantaran tidak mengenal istilah tsunami. Dhani melanjutkan, sungai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Atlantis yang kaya.

Bawean yang masuk Kabupaten Gresik adalah model dari Atlantis, yang memilki lingkungan, formasi geologi dan kegiatan tektonik yang sama. Pulau Bawean dan Atlantis, terbentuk di masa Paleogen dan Neogen melalui proses tektoknik yang disebabkan oleh patahan ekstensional di Laut Jawa dan Kalimantan.

“Plato menyebut Atlantis terletak dalam sebuah selat yang mempunyai pelabuhan. Itu berada di Laut Jawa. Atlantis tenggelam 60 meter di bawah laut,” katanya.

Dia melanjutkan, Pulau Bawean terdiri 85 persen batuan beku. Batuan berwarna putih (asam), hitam (basa), dan merah (oksida besi) juga dijelaskan Plato. Hanya saja, lanjut Dhani, penelitiannya mendapat tentangan dari peneliti luar. Dia mengungkapkannya setelah berdebat dalam sebuah forum yang khusus membahas masalah keberadaan Atlantis. Menurut argumen peneliti Barat, menurut dia, Atlantis tidak mungkin ada di Indonesia.

“Pertama, Atlantis itu ada di Samudra Atlantik. Kedua, mereka alergi membawa kata Plato dalam menemukan Atlantis. Saya mendapat serangan-serangan di forum. Mereka menganggap Atlantis itu milik mereka,” kata Dhani. [ZR/Republika]