Pengusaha Penggilingan Padi Gresik Desak Pemerintah Segera Terapkan HET Beras dan Gabah

0
36 views
Penggilingan padi di Betiring, Cerme, Gresik. (Foto: BG/Amn)

BeritaGresik.com – Pengusaha pengilingan padi di Kabupaten Gresik mendesak pemerintah segera menerapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk gabah dan beras. Sehingga, harga beras dan gabah nantinya diharapkan tidak terpengaruh praktik spekulan dan aksi penimbunan.

Sunarto, pengusaha pemggilingan padi asal Kandangan, Cerme, Gresik, mengaku sudah menekuni usaha penggilingan padi sejak 1982. Namun, sejak dua tahun belakangan ini dia tidak berani membeli gabah karena harga gabah mahal.

Karena itu, Sunarto mendukung rencana pemerintah menerapkan harga eceran tertinggi gabah dan beras. Dia mengaku senang dengan rencana itu, sehingga tidak ada spekulan yang menimbun gabah dan tidak perlu takut adanya kenaikan gabah.

Akibat harga gabah mahal dan modal yang terbatas, pria berusia 59 tahun itu mengaku sempat menjual sawahnya. “Saya sangat berharap supaya pemerinta benar-benar menerapkan HET untuk gabah dan dan beras,” kata Sunarto, Kamis (17/8/2017).

Sementara pengusaha penggilingan padi asal Kecamatan Balonpanggang, Gresik, Mohammad Amin juga menyambut baik rencana pemerintah menerapkan HET beras dan gabar yang harganya terus naik. Adanya HET diyakini akan membantu para petani dan pengusaha pemggilingan.

“Karena harga gabah selama ini terus naik gara-gara nngak ada HET-nya. Dan kita sebagai pengusaha kecil tidak mampu untuk membeli gabah,” kata Mohammad Amin.

Hal yang sama juga diakui Sumaji, pemilik penggilingan padi di Kecamatan Benjeng, Gresik. Menurut dia, adanya HET untuk beras dan gabah akan membuat gairah pengusaha kecil untuk tumbuh kembali.

“Dengan adanya HET, maka pengusaha penggilingan juga akan bisa membantu pengadaan beras bulog dengan harga yang telah di tetapkan pemerintah. Yang selama ini harganya Rp 8.030 per kilonya,” ujar Samuji.

Rencananya pemerintah akan menerapkan HET beras dan gabah pada awal September memdatang. HET untuk beras medium rencananya berkisar Rp 9.000 dan harga premium Rp 11.500.

Abdullah Munir pengusaha penggilingan padi asal Benjeng juga berharap supaya petani tidak kesulitan untuk mendapatkan pupuk setelah penerapan HET untuk gabah dan beras.

Senada diaampaika  Sekretaris Asosiasi Pedagang Pajali (Padi Jagung dan Kedelai) Purwanti. Dia juga mengaku sependapat dengan pengusaha penggilingan yang setuju dengan penerapan HET, karena akan membuat persaingan usaha semakin baik. (amn)