Berkat Inovasi, Petrokimia Gresik Hemat Rp278,8 Miliar

0
100 views
Konvensi Inovasi Petrokimia Gresik (KIPG) ke-XXXI serta Petrokimia Gresik Innovation Expo (PGIE) 2017 di Sarana Olahraga Tri Dharma PG. (Foto: BG/Wan)

BeritaGresik.com – Tahun 2018, hampir bisa dipastikan subsidi pupuk oleh pemerintah akan dialihkan. Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan pupuk seperti PT Petrokimia Gresik (PG).

Demikian disampaikan Direktur Produksi PG, I Ketut Rusnaya saat pembukaan Konvensi Inovasi Petrokimia Gresik (KIPG) ke-XXXI serta Petrokimia Gresik Innovation Expo (PGIE) 2017 di Sarana Olahraga Tri Dharma PG, Rabu (12/4/2017).

“Dalam menghadapi pengalihan subsidi, kita butuh ide-ide atau inovasi yang bisa menghasilkan penghematan. Selanjutnya penghematan itu akan berdampak pada hasil akhir produk kita, HPP (Harga Pokok Penjualan) produk komersial kita bisa bersaing di pasar,” ujarnya.

Seperti kegiatan KIPG dan PGIE, lanjutnya, merupakan wadah untuk memancing inovasi para karyawan. Peserta inovasi tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Ada 1.011 gugus peserta inovasi tahun ini, sedangkan tahun lalu sebanyak 1.003 gugus.

Berdasarkan verifikasi internal, tercatat realisasi penghematan sebesar Rp 278,88 miliar dari inovasi yang dilakukan 1.011 gugus tersebut.

Dengan tradisi inovasi yang telah dicanangkan diharapkan semakin banyak lagi karya inovasi yang mendukung peningkatan kinerja perusahaan. Tidak ada perusahaan yang maju dan mampu bersaing tanpa inovasi. Sehingga tantangan yang dihadapi bisa diubah menjadi peluang usaha.

Sasaran utama dari konvensi inovasi ini adalah memupuk semangat untuk terus berupaya mencari sistem maupun perilaku kerja yang semakin efektif dan efesien. Jika semangat tersebut bisa dipertahankan pada akhirnya inovasi akan menjadi budaya yang bermanfaat, serta menjadi velue yang riil.

Yuni Setiningrum, Ketua Pelaksana KIPG ke-XXXI dan PGIE 2017 dalam laporannya menyampaikan, KIPG digelar sebagai sarana penyampaian kisah sukses dan pemberian penghargaan kepada gugus-gugus inovasi yang berprestasi pada periode 2016-2017.

Sedangkan PGIE kedua ini untuk menampilkan inovasi terbaik dari 17 kompartemen di PG selama tiga tahun terakhir dan produk inovasi dari beberapa anak perusahaan PG.

Penyelenggaraan KIPG dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama adalah konvensi inovasi tingkat kompartemen. Tahap ini diikuti 1.011 gugus inovasi. Rinnciannya 44 Gugus Inovasi Operasional (GIO), 834 Sistem Saran (SS), 133 Gugus 5R.
Selain gugus inovasi tersebut, ada juga Sumbang Gagasan (SG) sebagai wadah inkubator ide-ide bagi seluruh karyawan yang pada tahun 2016 berhasil menjaring 1.928 atau naik 84% dari tahun lalu sebanyak 1.047 gagasan.

Tahap kedua adalah konvensi inovasi tingkat perusahaan, diikuti 123 gugus inovasi dan 5R yang terpilih dari hasil seleksi konvensi inovasi tingkat kompartemen. Rinciannya 22 GIO, 80 SS, dan 21 gugus 5R.

Penilaian inovasi pada dua tahap ini dilakukan oleh 180 penilai dari komite penilai inovasi tingkat kompartemen, 37 penilai dari komite tingkat perusahaan.
Pemenang inovasi tingkat perusahaan nantinya akan mewakili perusahaan untuk mengikuti konvensi inovasi tingkat nasional.

Salah satu contoh inovasi yang dilakukan PG adalah membuat alat kalibrasi wettest meter. Fungsinya mengalibrasi wettest meter atau alat ukur volume gas. Alat ini satu-satunya di Indonesia dan sudah mengantongi ISO:4787.

Selama ini untuk mengalibrasi wettest meter harus dikirim ke Jerman dengan biaya minimal Rp50 juta. Dengan alat ini bisa menghemat biaya kalibrasi. (wan)