Buruh Pabrik Cangkul Duduki Gerbang Perusahaan di KIG

0
740 views
Demo buruh di KIG. (Foto: BG/Wan)
Demo buruh di KIG. (Foto: BG/Wan)

BeritaGresik.com – Puluhan buruh borongan dan karyawan CV. Surya Makmur kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu gerbang perusahaan di Jalan Kawasan Industri Gresik (KIG), Kecamatan Manyar, Gresik, Selasa (5/4/2016).

Dalam aksinya, massa yang mengenakan kaos merah ini hanya menempelkan spanduk dan poster tuntutan yang hingga kini dipandang belum dipenuhi oleh perusahaan yang memproduksi cangkul dan scrop bahan bangunan ini.

Massa menduduki area sekitar pabrik sambil menunggu perwakilan buruh, Disnakertrans, dan Pihak perusahaan untuk melakukan dialog terkait tuntutan mereka.

Dalam tuntutannya, buruh meminta upah layak dan hak-hak pekerja yang belum diberikan seperti hak Tunjangan Hari Raya (THR) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Para pekerja borongan dan karyawan ini tetap nekat berunjuk rasa karena pembayaran upah yang tidak merata di setiap pekerja.

Nazmidin, salah satu perwakilan buruh mengatakan, dirinya masih menunggu hasil mediasi yang tak kunjung selesai di dalam pabrik. “Kita tunggu sampai jam 1 siang, kalau tidak ada hasil, kita pulang dan besok demo lagi,” kata Nazmidin.

Sementara itu, Somat, salah satu pekerja harian CV Surya Makmur mengatakan, bahwa setiap pekerja ada yang dibayar kisaran Rp 2,3 juta per bulan, ada yang dibayar Rp 3,042 juta per bulan.

Sedangkan untuk tenaga borongan hanya mendapatkan Rp 1,6 juta. Padahal, terang buruh, pihaknya sudah bekerja keras untuk memenuhi tuntutan produksi perusahaan.

“Perusahaan ini tidak mampu membayar pekerja sesuai UMK tapi juga tidak mau mengajukan penangguhan ke Gubernur, tapi membayar upah pekerja di bawah UMK,” kata Abdus Somat, pekerja harian di CV Surya Makmur.

Selain itu, pemberian THR juga dinilai masih di bawah ketentuan, yaitu separuh upah yang diterima pekerja. Misal, pekerja diberi upah Rp 2,5 juta per bulan, maka THR yang diberikan perusahaan sebesar Rp 1,2 juta.

“Kita hanya menuntut hak normatif. Termasuk hak Jaminan kesehatan. Kita tidak akan anarkis,” pungkas Somat.(wan)