Warga Klampok Ubah Limbah Sarung Jadi Kerajinan

0
475 views
Warga desa Klampok, Kecamatan Benjeng ubah limbah industri sarung tenun jadi aneka kerajinan rumah tangga.
Warga desa Klampok, Kecamatan Benjeng manfaatkan limbah industri sarung tenun jadi aneka kerajinan rumah tangga. (Foto: Sdm)

BeritaGresik.com – Usaha warga di desa Klampok, Kecamatan Benjeng, Gresik, menyulap limbah industri sarung tenun menjadi aneka kerajinan rumah tangga patut diacungi jempol. Kreatifitas warga dapat menambah nilai ekonomi limbah.

Barang kerajinan yang dihasilkan daru limbah sarung sangat beragam, seperti bross, tempat tissue, taplak kulkas, taplak meja, hiasan rak mini minuman gelas, pelapis gelas dan toples serta barang kerajinan tumah tangga lainnya.

Kemampuan warga Klampok mengolah limbah sarung menjadi bahan kerajinan tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Salah satunya yakni Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik.

Pemkab mendatangkan instruktur untuk pelatihan pembuatan peralatan rumah tangga berbahan dasar sarung setelah melihat begitu banyak limbah industri sarung tenun. Sehingga digelar pelatihan yang diikuti warg sejak Selasa (3/5/2016).

“Kami bekerjasama dengan salah satu lembaga kursus dan pelatihan untuk menyulap limbah ini menjadi barang yang punya nilai ekonomis,” kata Kepala Bidang Perindustrian, Ilmul Yaqien.

Selama inj desa Kelampok, Kecamatan Benjeng, Gresik, dikenal sebagai salah satu kaqasan sentra industri sarung yang dihasilkan dari alat tenun bukan mesin (ATBM). Sebanyak 930 KK yang ada di desa setempat menekuni usaha sarung.

“Sebanyak 930 KK yang ada di wilayah ini berusaha pada industri sarung tenun,” tutur Ngadi (51), Kepala Desa setempat yang katanya rumah terutama di dusun Karangploso dan Kalipang mengoperasikan ATBM di rumahnya.

Menurut Ngadi, sarung yang dihasilkan untuk tujuan ekspor ini tak semuanya baik. Dari setiap 12 kodi yang dihasilkan, ada 6 potong kain sarung yang diafkir. Beberapa dimanfaatkan untuk sarung anak-anak atau bahan pembuatan baju.

“Namun, ada kalanya tidak bisa dipakai sama sekali. Yang tidak bisa dipakai banyak sekali Pak, karena tidak ada harganya seringkali hanya sebagai sampah,” terang Ngadi yang juga sebagai pelaku usaha sarung tenun. (as)