Baju Bekas Impor Masih Diminati Konsumen

0
1,246 views

BeritaGresik.com – Seorang pedagan terlihat sedang menata celana dan baju impor bekas di Jalan Usman Sadar Gresik, Kamis (2/7). Pakaian impor bekas ternyata masih diminati konsumen, meski Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia mendesak agar impor pakaian ilegal ditindak tegas.

Tak hanya itu, Februari 2015 lalu, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel mengeluarkan kebijakan agar Indonesia tidak lagi mengimpor pakaian bekas. Hal ini dilakukan karena pakaian bekas telah terbukti membawa berbagai bibit penyakit.

Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan bahwa Provinsi Riau menjadi pusat masuknya pakaian bekas ke Indonesia. Tembilahan disebutkan menjadi wilayah yang paling banyak menampung pakaian bekas.

Berikut ini beberapa alasan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melarang impor pakaian bekas, serta sanksinya:

1. Importir pakaian bekas akan dipidana

Di samping menertibkan masuknya pakaian bekas ke Indonesia, Kemendag juga mengancam akan memberikan sanksi pidana bagi importir yang nekat mendatangkan pakaian bekas. Rachmat Gobel menegaskan, pakaian bekas yang masuk ke Indonesia itu ilegal. Karena itu, pelaku kegiatan ilegal ini akan dipidana.

2. Impor pakaian bekas menginjak harga diri bangsa kita

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono mengaku kesal dengan maraknya impor pakaian bekas ini. Dia berpendapat hal ini mengganggu industri garmen dan harga diri bangsa. Masyarakat dinilai tidak patut memakai barang bekas orang lain.

4. Celana bekas wanita terbukti paling banyak mengandung bakteri

Alasan pelarangan impor pakaian bekas ini ternyata bukan tanpa alasan yang jelas. Sebab, Kemendag menemukan adanya ratusan ribu koloni mikroba dan puluhan ribu koloni jamur pada pakaian bekas yang telah diimpor ke Indonesia.

Setelah dilakukan uji sampel pada 25 baju dan celana bekas, terbukti bahwa celana bekas wanita mengandung 216.000 koloni untuk satu gramnya. Celana bekas wanita menjadi yang paling banyak mengandung bakteri karena telah dipakai ketika menstruasi.

5. Pakaian bekas dapat menularkan virus HIV

Dari hasil riset yang dilakukan Kemendag, pakaian bekas memang dapat menularkan berbagai penyakit kepada konsumennya. Rachmat Gobel juga menyebutkan bahwa pakaian bekas dapat menularkan penyakit kulit dan virus HIV. Dia menyatakan, hasil riset itu sudah ada buktinya di laboratorium. (wan)