Harga Cabai di Gresik Tembus Rp 140 Ribu/Kg

0
109 views
Banyak warga menanam cabai sendiri guna menyiasati mahalnya harga cabai di pasar. (Foto: BG/Kurniawan)

BeritaGresik.com – Harga cabai rawit di sejumlah pasar di Kabupaten Gresik masih terus melambung tinggi hingga memasuki bulan ketiga sejak awal Januari lalu. Saat ini harga cabai di pasar yang afa di Gresik berkisar Rp 135 ribu hingga Rp 140 ribu.

Karena itu, beberapa warga di Gresik pun akhirnya berinisiatif menanam cabai sendiri di lahan sempit pekarangan rumah maupun pada lahan yang seadanya. Ini dilakukan untuk menekan biaya kebutuhan dapur yang belakangan terus melonjak.

Tingginya harga cabai rawit ini dipengaruhi minimnya pasokan, lantaran banyak petani cabai yang mengalami gagal panen. Hal itu disebabkan faktor cuaca buruk atau curah hujan yang masih tinggi. Sehingga banyak warga yang menanam cabai sendiri.

Nur Nasifah, warga perum Gresik Kota Baru, Manyar memilih untuk menanam sendiri cabai rawit di halaman samping rumahnya sejak dua tahun lalu lantaran mengetahui harga cabai di pasaran memang tidak stabil dan cenderung naik.

“Harga cabai pada saat itu juga sering naik dan keluarga saya suka makanan yang pedas semua, jadi saya tanam cabai sendiri disamping rumah. Alhamdulillah, sekarang bisa panen dan terus berbuah,” Kata Nur Nasifah, Rabu (1/3/2017).

Senada dengan Nur Nasifah, Pratikno, warga Indro, Kecamatan Kebomas, Gresik juga berinisiatif menanam cabai sendiri di pekarangan rumahnya. Dia beralasan sudah tidak mampu lagi membeli cabai di pasar. Inisiatif itu dia lakukan sejak harga cabai rawit mengalami kenaikan signifikan.

“Sebab keluarga saya merupakan pecinta sambal yang setiap harinya selalu mengkonsumsi sambal, terutama anak saya yang doyan pedas. Jadi saya bersama anak saya dan beberapa tetangga memilih untuk menanam cabai jenis rawit,” ujar Pratikno.

Selain hanya bisa merawat dan menunggu hasil panen tanaman cabai miliknya, Pratikno juga berharap pemerintah bisa mengendalikan harga cabai di pasaran, karena hasil panen cabainya tak bisa maksimal akibat keterbatasan lahan. (wan)